Home » All posts
burung angry bird di alam nyata
Diposting oleh Unknown
More about → burung angry bird di alam nyata
Label:
burung
cara budidaya burung puyuh
Diposting oleh Unknown
cara budidaya burung puyuh
Sebagian besar masyarakat Indonesia pasti sudah menikmati sedapnya telur puyuh. Jenis unggas yang dikenal sebagai Gemak merupakan jenis burung yang tidak dapat terbang, ukuran tubuh relatif kecil, berkaki pendek dan dapat diadu. Sedangkan di Indonesia puyuh mulai dikenal, dan diternak semenjak akhir tahun 1979. Burung puyuh cukup mudah dibudidayakan. Dengan tingkat kebutuhan pasar yang tinggi menjadikan budidaya burung puyuh ini sebagai peluang usaha yang menjanjikan.
Berikut ini adalah serba-serbi budidaya burung puyuh dimulai dengan sejarah singkat burung puyuh, sentra budidaya burung puyuh, jenis-jenis burung puyuh, manfaat burung puyuh, persyaratan lokasi budidaya burung puyuh, pedoman teknis budidaya burung puyuh, hama dan penyakit burung puyuh dan lain-lain.
SEJARAH SINGKAT
Puyuh merupakan jenis burung yang tidak dapat terbang, ukuran tubuh relatif kecil, berkaki pendek dan dapat diadu. Burung puyuh disebut juga Gemak (Bhs. Jawa-Indonesia). Bahasa asingnya disebut “Quail”, merupakan bangsa burung (liar) yang pertama kali diternakan di Amerika Serikat, tahun 1870. Dan terus dikembangkan ke penjuru dunia. Sedangkan di Indonesia puyuh mulai dikenal, dan diternak semenjak akhir tahun 1979. Kini mulai bermunculan di kandang-kandang ternak yang ada di Indonesia.
SENTRA PETERNAKAN
Sentra Peternakan burung puyuh banyak terdapat di Sumatera, Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah
JENIS
Kelas : Aves (Bangsa Burung)
Ordo : Galiformes
Sub Ordo : Phasianoidae
Famili : Phasianidae
Sub Famili : Phasianinae
Genus : Coturnix
Species : Coturnix-coturnix Japonica
MANFAAT
Telur dan dagingnya mempunyai nilai gizi dan rasa yang lezat
Bulunya sebagai bahan aneka kerajinan atau perabot rumah tangga lainnya
Kotorannya sebagai pupuk kandang ataupun kompos yang baik dapat digunakan sebagai pupuk tanaman
PERSYARATAN LOKASI
Lokasi jauh dari keramaian dan pemukiman penduduk
Lokasi mempunyai strategi transportasi, terutama jalur sapronak dan jalur-jalur pemasaran
Lokasi terpilih bebas dari wabah penyakit
Bukan merupakan daerah sering banjir
Merupakan daerah yang selalu mendapatkan sirkulasi udara yang baik.
TEKNIS BUDIDAYA BURUNG PUYUH
Yang perlu diperhatikan oleh peternak sebelum memulai usahanya, adalah memahami 3 (tiga) unsur produksi usaha perternakan yaitu bibit/pembibitan, pakan (ransum) dan pengelolaan usaha peternakan. Secara rinci akan kita bahan lebih lanjut satu persatu.
PENYEDIAAN SARANA DAN PERALATAN
1. Persiapan kandang
Untuk budidaya burung puyuh, persyaratan kandang yang baik perlu diperhatikan adalah temperatur kandang yang ideal atau normal berkisar 20-25 derajat C; kelembaban kandang berkisar 30-80%; penerangan kandang pada siang hari cukup 25- 40 watt, sedangkan malam hari 40-60 watt (hal ini berlaku untuk cuaca mendung/musim hujan). Tata letak kandang sebaiknya diatur agar sinar matahari pagi dapat masuk kedalam kandang. Sehingga kondisi kandang tidak lembab.
Dalam mempersipkan kandang burung puyuh ini, kita mempunyai 2 alternatif yang biasa diterapkan peternak puyuh, yaitu sistem litter (lantai sekam) dan sistem sangkar (batere). Sedangkan ukuran kandang yang digunakanumumnya untuk 1 m2 dapat diisi 90-100 ekor anak puyuh, selanjutnya menjadi 60 ekor untuk umur 10 hari sampai lepas masa anakan. Terakhir menjadi 40 ekor/m2 sampai masa bertelur.
Ada beberapa tahapan dalam budidaya burung puyuh. Masing-masing tahapan idealnya memerlukan persiapan kandang yang sesuai, yaitu :
Kandang untuk induk pembibitan
Kandang ini berpegaruh langsung terhadap produktifitas dan kemampuan menghasilkan telur yang berkualitas. Besar atau ukuran kandang yang akan digunakan harus sesuai dengan jumlah puyuh yang akan dipelihara. Idealnya satu ekor puyuh dewasa membutuhkan luas kandang 200 m2.
Kandang untuk induk petelur
Kandang ini berfungsi sebagai kandang untuk induk pembibit. Kandang ini mempunyai bentuk, ukuran, dan keperluan peralatan yang sama. Kepadatan kandang lebih besar tetapi bisa juga sama.
Kandang untuk anak puyuh/umur stater(kandang indukan)
Jenis kandang ini merupakan kandang bagi anak puyuh pada umur starter, yaitu mulai umur satu hari sampai dengan dua sampai tiga minggu. Kandang ini berfungsi untuk menjaga agar anak puyuh yang masih memerlukan pemanasan itu tetap terlindung dan mendapat panas yang sesuai dengan kebutuhan. Sebaiknya kandang ini perlu dilengkapi alat pemanas. Biasanya ukuran yang sering digunakan adalah lebar 100 cm, panjang 100 cm, tinggi 40 cm, dan tinggi kaki 50 cm. (ukuran ini cukup memuat 90-100 ekor anak puyuh).
Kandang untuk puyuh umur grower (3-6 minggu) dan layer (lebih dari 6 minggu)
Jenis kandang berikutnya, bentuk, ukuran maupun peralatannya sama dengan kandang untuk induk petelur. Alas kandang biasanya berupa kawat ram.
2. Kelengkapan kandang
Perlengkapan yang diperlukan dalam kandang berupa tempat makan, tempat minum, tempat bertelur dan tempat obat-obatan.
PENYEDIAAN BIBIT
Seperti sudah diainggung diatas, penyediaan bibitmerupakan tahapan yang penting dalam budidaya burung puyuh. Pemilihan bibit burung puyuh disesuaikan dengan tujuan pemeliharaan, ada 3 (tiga) macam tujuan pemeliharaan burung puyuh, yaitu:
Untuk produksi telur konsumsi, dipilih bibit puyuh jenis ketam betina yang sehat atau bebas dari kerier penyakit.
Untuk produksi daging puyuh, dipilih bibit puyuh jantan dan puyuh petelur afkiran.
Untuk pembibitan atau produksi telur tetas, dipilih bibit puyuh betina yang baik produksi telurnya dan puyuh jantan yang sehat yang siap membuahi puyuh betina agar dapat menjamin telur tetas yang baik.
PEMELIHARAAN
Setelah kita dapatkan bibit yang baik, selanjutnya yang perlu mendapatkan perhatian adalah pemeliharaan puyuh, meliputi :
Kebersihan/Sanitasi dan Tindakan Preventif
Untuk menjaga timbulnya penyakit pada pemeliharaan puyuh kebersihan lingkungan kandang dan vaksinasi terhadap puyuh perlu dilakukan sedini mungkin.
Pengontrolan Penyakit
Pengontrolan penyakit dilakukan setiap saat dan apabila ada tanda-tanda yang kurang sehat terhadap puyuh harus segera dilakukan pengobatan sesuai dengan petunjuk dokter hewan atau dinas peternakan setempat atau petunjuk dari Poultry Shoup.
Pemberian Pakan
Pemberian pakan merupakan faktor yang penting dalam keberhasilan beternak burung puyuh dengan hasil yang maksimal. Ransum (pakan) yang dapat diberikan untuk puyuh terdiri dari beberapa bentuk, yaitu: bentuk pallet, remah-remah dan tepung. Karena puyuh yang suka usil memtuk temannya akan mempunyai kesibukan dengan mematukmatuk pakannya. Pemberian ransum puyuh anakan diberikan 2 (dua) kali sehari pagi dan siang. Sedangkan puyuh remaja/dewasa diberikan ransum hanya satu kali sehari yaitu di pagi hari. Untuk pemberian minum pada anak puyuh pada bibitan diberikan terus-menerus.
Pemberian Vaksinasi
Pada umur 4-7 hari puyuh di vaksinasi dengan dosis separo dari dosis untuk ayam. Vaksin dapat diberikan melalui tetes mata (intra okuler) atau air minum (peroral).
HAMA DAN PENYAKIT
Seperti usaha pada umumnya, budidaya burung puyuh ini mengalami beberapa hambatan, umumnya serangan hama maupun penyakit. Untuk pencegahan ada baiknya kita mengetahui jenis-jenis hama ataupun penyakit yang sering menyerang unggas ini.
1. Radang usus (Quail enteritis)
Penyebab: bakteri anerobik yang membentuk spora dan menyerang usus, sehingga timbul pearadangan pada usus.
Gejala: puyuh tampak lesu, mata tertutup, bulu kelihatan kusam, kotoran berair dan mengandung asam urat.
Pengendalian: memperbaiki tata laksana pemeliharaan, serta memisashkan burung puyuh yang sehat dari yang telah terinfeksi.
2. Tetelo (NCD/New Casstle Diseae)
Gejala: puyuh sulit bernafas, batuk-batuk, bersin, timbul bunyi ngorok, lesu, mata ngantuk, sayap terkulasi, kadang berdarah, tinja encer kehijauan yangspesifik adanya gejala “tortikolis”yaitu kepala memutar-mutar tidak menentu dan lumpuh.
Pengendalian:
menjaga kebersihan lingkungan dan peralatan yang tercemar virus, binatang vektor penyakit tetelo, ayam yang mati segera dibakar/dibuang
pisahkan ayam yang sakit, mencegah tamu masuk areal peternakan tanpa baju yang mensucihamakan/ steril serta melakukan vaksinasi NCD. Sampai sekarang belum ada obatnya.
3. Berak putih (Pullorum)
Penyebab: Kuman Salmonella pullorum dan merupakan penyakit menular.
Gejala: kotoran berwarna putih, nafsu makan hilang, sesak nafas, bulu-bulu mengerut dan sayap lemah menggantung.
Pengendalian: sama dengan pengendalian penyakit tetelo.
4. Berak darah (Coccidiosis)
Gejala: tinja berdarah dan mencret, nafsu makan kurang, sayap terkulasi, bulu kusam menggigil kedinginan.
Pengendalian:
menjaga kebersihan lingkungaan, menjaga litter tetap kering; dengan Tetra Chloine Capsule diberikan melalui mulut; Noxal, Trisula Zuco tablet dilarutkan dalam air minum atau sulfaqui moxaline, amprolium, cxaldayoco
5. Cacar Unggas (Fowl Pox)
Penyebab: Poxvirus, menyerang bangsa unggas dari semua umur dan jenis kelamin.
Gejala: imbulnya keropeng-keropeng pada kulit yang tidak berbulu, seperti pial, kaki, mulut dan farink yang apabila dilepaskan akan mengeluarkan darah.
Pengendalian: vaksin dipteria dan mengisolasi kandang atau puyuh yang terinfksi.
6. Quail Bronchitis
Penyebab: Quail bronchitis virus (adenovirus) yang bersifat sangat menular.
Gejala: puyuh kelihatan lesu, bulu kusam, gemetar, sulit bernafas, batuk dan bersi, mata dan hidung kadang-kadang mengeluarkan lendir serta kadangkala kepala dan leher agak terpuntir.
Pengendalian: pemberian pakan yang bergizi dengan sanitasi yang memadai.
7. Aspergillosis
Penyebab: cendawan Aspergillus fumigatus.
Gejala: Puyuh mengalami
gangguan pernafasan, mata terbentuk lapisan putih menyerupai keju, mengantuk, nafsu makan berkurang.
Pengendalian: memperbaiki sanitasi kandang dan lingkungan sekitarnya.
8. Cacingan
Penyebab: sanitasi yang buruk.
Gejala: puyuh tampak kurus, lesu dan lemah.
Pengendalian: menjaga kebersihan kandang dan pemberian pakan yang terjaga kebersihannya.
PEMANENAN
Tahapan yang paling ditunggu oleh seorang pengusaha adalah saat pemanenan. Seperti telah didisinggung diatas, ada beberapa manfaat yang dapat diambil dari budidaya burung puyuh ini, yaitu :
Hasil Utama
Pada usaha pemeliharaan puyuh petelur, yang menjadi hasil utamanya adalah produksi telurnya yang dipanen setiap hari selama masa produksi berlangsung.
Hasil Tambahan
Sedangkan yang merupakan hasil tambahan antara lain berupa daging afkiran, tinja untuk pupuk kandang serta bulu puyuh sebagai bahan baku kerajinan tangan.
Beternak Burung Puyuh – Sebagian besar masyarakat Indonesia pasti sudah menikmati sedapnya telur puyuh. Jenis unggas yang dikenal sebagai Gemak merupakan jenis burung yang tidak dapat terbang, ukuran tubuh relatif kecil, berkaki pendek dan dapat diadu. Sedangkan di Indonesia Cara berternak burung puyuh mulai dikenal, dan kembangkan semenjak akhir tahun 1979. Cara berternak burung puyuh sangat mudah diterapkan. Dengan tingkat kebutuhan pasar yang tinggi menjadikan budidaya burung puyuh ini sebagai peluang usaha yang menjanjikan.
Berikut ini adalah Cara berternak burung puyuh dimulai dengan sejarah singkat burung puyuh, sentra Cara berternak burung puyuh, jenis-jenis burung puyuh, manfaat burung puyuh, persyaratan lokasi Cara berternak burung puyuh, pedoman Cara berternak burung puyuh, hama dan penyakit burung puyuh dan lain-lain.
SEJARAH SINGKAT
Puyuh merupakan jenis burung yang tidak dapat terbang, ukuran tubuh relatif kecil, berkaki pendek dan dapat diadu. Burung puyuh disebut juga Gemak (Bhs. Jawa-Indonesia). Bahasa asingnya disebut “Quail”, merupakan bangsa burung (liar) yang pertama kali diternakan di Amerika Serikat, tahun 1870. Dan terus dikembangkan ke penjuru dunia. Sedangkan di Indonesia puyuh mulai dikenal, dan diternak semenjak akhir tahun 1979. Kini mulai bermunculan di kandang-kandang ternak yang ada di Indonesia.
SENTRA PETERNAKAN
Sentra Peternakan burung puyuh banyak terdapat di Sumatera, Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah
JENIS
Kelas : Aves (Bangsa Burung)
Ordo : Galiformes
Sub Ordo : Phasianoidae
Famili : Phasianidae
Sub Famili : Phasianinae
Genus : Coturnix
Species : Coturnix-coturnix Japonica
MANFAAT
Telur dan dagingnya mempunyai nilai gizi dan rasa yang lezat
Bulunya sebagai bahan aneka kerajinan atau perabot rumah tangga lainnya
Kotorannya sebagai pupuk kandang ataupun kompos yang baik dapat digunakan sebagai pupuk tanaman
PERSYARATAN LOKASI
Lokasi jauh dari keramaian dan pemukiman penduduk
Lokasi mempunyai strategi transportasi, terutama jalur sapronak dan jalur-jalur pemasaran
Lokasi terpilih bebas dari wabah penyakit
Bukan merupakan daerah sering banjir
Merupakan daerah yang selalu mendapatkan sirkulasi udara yang baik.
TEKNIS BUDIDAYA BURUNG PUYUH
Yang butuh di perhatikan oleh peternak sebelum saat mengawali usahanya, yaitu memahami 3 ( tiga ) unsur produksi usaha perternakan yakni bibit/pembibitan, pakan ( ransum ) dan pengelolaan usaha peternakan. dengan rinci akan kita bahan selanjutnya satu persatu.
Penyediaan fasilitas dan peralatan
1. Persiapan kandang
Buat budidaya burung puyuh, kriteria kandang yang baik butuh di perhatikan yaitu temperatur kandang yang ideal atau normal berkisar 20-25 derajat c ; kelembapan kandang berkisar 30-80% ; penerangan kandang pada siang hari cukup 25- 40 watt, namun malam hari 40-60 watt ( perihal ini berlaku buat cuaca mendung/musim hujan ). tata letak kandang baiknya diatur supaya cahaya matahari pagi dapat masuk kedalam kandang. hingga keadaan kandang tidak lembab.
Saat mempersipkan kandang burung puyuh ini, kita memiliki 2 alternatif yang biasa diaplikasikan peternak puyuh, yakni sistem litter ( lantai sekam ) dan sistem sangkar ( batere ). namun ukuran kandang yang digunakanumumnya buat 1 m2 bisa diisi 90-100 ekor anak puyuh, berikut jadi 60 ekor buat umur 10 hari sampai lepas waktu anakan. paling akhir jadi 40 ekor/m2 sampai waktu bertelur.
Ada lebih dari satu bagian didalam budidaya burung puyuh. masing-masing bagian idealnya membutuhkan persiapan kandang yang cocok, yakni :
Kandang buat induk pembibitan
Kandang ini berpegaruh segera terhadap produktifitas dan kekuatan membuahkan telur yang berkwalitas. besar atau ukuran kandang yang akan dipakai kudu cocok dengan jumlah puyuh yang akan dipelihara. idealnya satu ekor puyuh dewasa memerlukan luas kandang 200 m2.
Kandang buat induk petelur
Kandang ini berperan jadi kandang buat induk pembibit. kandang ini memiliki wujud, ukuran, dan kepentingan peralatan yang sama. kepadatan kandang semakin besar namun dapat juga sama.
Kandang buat anak puyuh/umur stater( kandang indukan )
Type kandang ini adalah kandang untuk anak puyuh pada umur starter, yakni mulai umur 1 hari sampai dengan dua sampai tiga minggu. kandang ini berperan buat melindungi supaya anak puyuh yang masih membutuhkan pemanasan itu terus terlindung dan memperoleh panas yang cocok dengan keperluan. baiknya kandang ini butuh dilengkapi alat pemanas. umumnya ukuran yang kerap dipakai yaitu lebar 100 cm, panjang 100 cm, tinggi 40 cm, dan tinggi kaki 50 cm. ( ukuran ini cukup berisi 90-100 ekor anak puyuh ).
kandang buat puyuh umur grower ( 3-6 minggu ) dan layer ( kian lebih 6 minggu )
Type kandang selanjutnya, wujud, ukuran ataupun peralatannya sama juga dengan kandang buat induk petelur. alas kandang umumnya berbentuk kawat ram.
2. Kelengkapan kandang
Perlengkapan yang dibutuhkan didalam kandang berbentuk area makan, area minum, area bertelur dan area obat-obatan.
Penyediaan bibit
Layaknya telah diainggung di atas, penyediaan bibitmerupakan bagian yang perlu didalam budidaya burung puyuh. penentuan bibit burung puyuh sesuai dengan tujuan pemeliharaan, ada 3 ( tiga ) macam tujuan pemeliharaan burung puyuh, yakni :
Buat produksi telur mengonsumsi, dipilih bibit puyuh type ketam betina yang sehat atau bebas dari kerier penyakit.
buat produksi daging puyuh, dipilih bibit puyuh jantan dan puyuh petelur afkiran.
buat pembibitan atau produksi telur tetas, dipilih bibit puyuh betina yang baik produksi telurnya dan puyuh jantan yang sehat yang siap membuahi puyuh betina supaya bisa menjamin telur tetas yang baik.
Pemeliharaan
Sesudah kita peroleh bibit yang baik, berikut yang butuh memperoleh perhatian yaitu pemeliharaan puyuh, meliputi :
Kebersihan/sanitasi dan tindakan preventif
Buat melindungi munculnya penyakit pada pemeliharaan puyuh kebersihan lingkungan kandang dan vaksinasi terhadap puyuh butuh dikerjakan sedini barangkali.
Pengontrolan penyakit
Pengontrolan penyakit dikerjakan setiap waktu dan seandainya ada sinyal tanda yang kurang sehat terhadap puyuh kudu selekasnya dikerjakan penyembuhan cocok dengan panduan dokter hewan atau dinas peternakan setempat atau panduan dari poultry shoup.
Pemberian pakan
Pemberian pakan adalah faktor yang perlu didalam kesuksesan beternak burung puyuh dengan hasil yang maksimal. ransum ( pakan ) yang bisa diberikan buat puyuh terdiri dari lebih dari satu wujud, yakni : wujud pallet, remah-remah dan tepung. lantaran puyuh yang senang usil memtuk temannya akan memiliki aktivitas mematukmatuk pakannya. pemberian ransum puyuh anakan diberikan 2 ( dua ) kali 1 hari pagi dan siang. namun puyuh remaja/dewasa diberikan ransum cuma satu kali 1 hari yakni di pagi hari. buat pemberian minum pada anak puyuh pada bibitan diberikan terus-menerus.
Pemberian vaksinasi
Pada umur 4-7 hari puyuh di vaksinasi dengan dosis separo dari dosis buat ayam. vaksin bisa diberikan lewat tetes mata ( intra okuler ) atau air minum ( peroral ).
pemanenan
Bagian yang sangat ditunggu oleh seorang entrepreneur yaitu waktu pemanenan. layaknya sudah didisinggung di atas, ada lebih dari satu faedah yang bisa diambil dari budidaya burung puyuh ini, yakni :
Hasil utama
Pada usaha pemeliharaan puyuh petelur, sebagai hasil utamanya yaitu produksi telurnya yang dipanen tiap-tiap hari sepanjang masa produksi berlangsung.
Hasil tambahan
Hasil tambahan diantaranya berbentuk daging afkiran, tinja buat pupuk kandang dan bulu puyuh jadi bahan baku kerajinan tangan.
nah,,, menunggu terlebih, satu type usaha, budidaya burung puyuh, bermacam hasil yang didapat. selamat jadi entrepreneur dan semoga sukses…
Berikut ini adalah serba-serbi budidaya burung puyuh dimulai dengan sejarah singkat burung puyuh, sentra budidaya burung puyuh, jenis-jenis burung puyuh, manfaat burung puyuh, persyaratan lokasi budidaya burung puyuh, pedoman teknis budidaya burung puyuh, hama dan penyakit burung puyuh dan lain-lain.
SEJARAH SINGKAT
Puyuh merupakan jenis burung yang tidak dapat terbang, ukuran tubuh relatif kecil, berkaki pendek dan dapat diadu. Burung puyuh disebut juga Gemak (Bhs. Jawa-Indonesia). Bahasa asingnya disebut “Quail”, merupakan bangsa burung (liar) yang pertama kali diternakan di Amerika Serikat, tahun 1870. Dan terus dikembangkan ke penjuru dunia. Sedangkan di Indonesia puyuh mulai dikenal, dan diternak semenjak akhir tahun 1979. Kini mulai bermunculan di kandang-kandang ternak yang ada di Indonesia.
SENTRA PETERNAKAN
Sentra Peternakan burung puyuh banyak terdapat di Sumatera, Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah
JENIS
Kelas : Aves (Bangsa Burung)
Ordo : Galiformes
Sub Ordo : Phasianoidae
Famili : Phasianidae
Sub Famili : Phasianinae
Genus : Coturnix
Species : Coturnix-coturnix Japonica
MANFAAT
Telur dan dagingnya mempunyai nilai gizi dan rasa yang lezat
Bulunya sebagai bahan aneka kerajinan atau perabot rumah tangga lainnya
Kotorannya sebagai pupuk kandang ataupun kompos yang baik dapat digunakan sebagai pupuk tanaman
PERSYARATAN LOKASI
Lokasi jauh dari keramaian dan pemukiman penduduk
Lokasi mempunyai strategi transportasi, terutama jalur sapronak dan jalur-jalur pemasaran
Lokasi terpilih bebas dari wabah penyakit
Bukan merupakan daerah sering banjir
Merupakan daerah yang selalu mendapatkan sirkulasi udara yang baik.
TEKNIS BUDIDAYA BURUNG PUYUH
Yang perlu diperhatikan oleh peternak sebelum memulai usahanya, adalah memahami 3 (tiga) unsur produksi usaha perternakan yaitu bibit/pembibitan, pakan (ransum) dan pengelolaan usaha peternakan. Secara rinci akan kita bahan lebih lanjut satu persatu.
PENYEDIAAN SARANA DAN PERALATAN
1. Persiapan kandang
Untuk budidaya burung puyuh, persyaratan kandang yang baik perlu diperhatikan adalah temperatur kandang yang ideal atau normal berkisar 20-25 derajat C; kelembaban kandang berkisar 30-80%; penerangan kandang pada siang hari cukup 25- 40 watt, sedangkan malam hari 40-60 watt (hal ini berlaku untuk cuaca mendung/musim hujan). Tata letak kandang sebaiknya diatur agar sinar matahari pagi dapat masuk kedalam kandang. Sehingga kondisi kandang tidak lembab.
Dalam mempersipkan kandang burung puyuh ini, kita mempunyai 2 alternatif yang biasa diterapkan peternak puyuh, yaitu sistem litter (lantai sekam) dan sistem sangkar (batere). Sedangkan ukuran kandang yang digunakanumumnya untuk 1 m2 dapat diisi 90-100 ekor anak puyuh, selanjutnya menjadi 60 ekor untuk umur 10 hari sampai lepas masa anakan. Terakhir menjadi 40 ekor/m2 sampai masa bertelur.
Ada beberapa tahapan dalam budidaya burung puyuh. Masing-masing tahapan idealnya memerlukan persiapan kandang yang sesuai, yaitu :
Kandang untuk induk pembibitan
Kandang ini berpegaruh langsung terhadap produktifitas dan kemampuan menghasilkan telur yang berkualitas. Besar atau ukuran kandang yang akan digunakan harus sesuai dengan jumlah puyuh yang akan dipelihara. Idealnya satu ekor puyuh dewasa membutuhkan luas kandang 200 m2.
Kandang untuk induk petelur
Kandang ini berfungsi sebagai kandang untuk induk pembibit. Kandang ini mempunyai bentuk, ukuran, dan keperluan peralatan yang sama. Kepadatan kandang lebih besar tetapi bisa juga sama.
Kandang untuk anak puyuh/umur stater(kandang indukan)
Jenis kandang ini merupakan kandang bagi anak puyuh pada umur starter, yaitu mulai umur satu hari sampai dengan dua sampai tiga minggu. Kandang ini berfungsi untuk menjaga agar anak puyuh yang masih memerlukan pemanasan itu tetap terlindung dan mendapat panas yang sesuai dengan kebutuhan. Sebaiknya kandang ini perlu dilengkapi alat pemanas. Biasanya ukuran yang sering digunakan adalah lebar 100 cm, panjang 100 cm, tinggi 40 cm, dan tinggi kaki 50 cm. (ukuran ini cukup memuat 90-100 ekor anak puyuh).
Kandang untuk puyuh umur grower (3-6 minggu) dan layer (lebih dari 6 minggu)
Jenis kandang berikutnya, bentuk, ukuran maupun peralatannya sama dengan kandang untuk induk petelur. Alas kandang biasanya berupa kawat ram.
2. Kelengkapan kandang
Perlengkapan yang diperlukan dalam kandang berupa tempat makan, tempat minum, tempat bertelur dan tempat obat-obatan.
PENYEDIAAN BIBIT
Seperti sudah diainggung diatas, penyediaan bibitmerupakan tahapan yang penting dalam budidaya burung puyuh. Pemilihan bibit burung puyuh disesuaikan dengan tujuan pemeliharaan, ada 3 (tiga) macam tujuan pemeliharaan burung puyuh, yaitu:
Untuk produksi telur konsumsi, dipilih bibit puyuh jenis ketam betina yang sehat atau bebas dari kerier penyakit.
Untuk produksi daging puyuh, dipilih bibit puyuh jantan dan puyuh petelur afkiran.
Untuk pembibitan atau produksi telur tetas, dipilih bibit puyuh betina yang baik produksi telurnya dan puyuh jantan yang sehat yang siap membuahi puyuh betina agar dapat menjamin telur tetas yang baik.
PEMELIHARAAN
Setelah kita dapatkan bibit yang baik, selanjutnya yang perlu mendapatkan perhatian adalah pemeliharaan puyuh, meliputi :
Kebersihan/Sanitasi dan Tindakan Preventif
Untuk menjaga timbulnya penyakit pada pemeliharaan puyuh kebersihan lingkungan kandang dan vaksinasi terhadap puyuh perlu dilakukan sedini mungkin.
Pengontrolan Penyakit
Pengontrolan penyakit dilakukan setiap saat dan apabila ada tanda-tanda yang kurang sehat terhadap puyuh harus segera dilakukan pengobatan sesuai dengan petunjuk dokter hewan atau dinas peternakan setempat atau petunjuk dari Poultry Shoup.
Pemberian Pakan
Pemberian pakan merupakan faktor yang penting dalam keberhasilan beternak burung puyuh dengan hasil yang maksimal. Ransum (pakan) yang dapat diberikan untuk puyuh terdiri dari beberapa bentuk, yaitu: bentuk pallet, remah-remah dan tepung. Karena puyuh yang suka usil memtuk temannya akan mempunyai kesibukan dengan mematukmatuk pakannya. Pemberian ransum puyuh anakan diberikan 2 (dua) kali sehari pagi dan siang. Sedangkan puyuh remaja/dewasa diberikan ransum hanya satu kali sehari yaitu di pagi hari. Untuk pemberian minum pada anak puyuh pada bibitan diberikan terus-menerus.
Pemberian Vaksinasi
Pada umur 4-7 hari puyuh di vaksinasi dengan dosis separo dari dosis untuk ayam. Vaksin dapat diberikan melalui tetes mata (intra okuler) atau air minum (peroral).
HAMA DAN PENYAKIT
Seperti usaha pada umumnya, budidaya burung puyuh ini mengalami beberapa hambatan, umumnya serangan hama maupun penyakit. Untuk pencegahan ada baiknya kita mengetahui jenis-jenis hama ataupun penyakit yang sering menyerang unggas ini.
1. Radang usus (Quail enteritis)
Penyebab: bakteri anerobik yang membentuk spora dan menyerang usus, sehingga timbul pearadangan pada usus.
Gejala: puyuh tampak lesu, mata tertutup, bulu kelihatan kusam, kotoran berair dan mengandung asam urat.
Pengendalian: memperbaiki tata laksana pemeliharaan, serta memisashkan burung puyuh yang sehat dari yang telah terinfeksi.
2. Tetelo (NCD/New Casstle Diseae)
Gejala: puyuh sulit bernafas, batuk-batuk, bersin, timbul bunyi ngorok, lesu, mata ngantuk, sayap terkulasi, kadang berdarah, tinja encer kehijauan yangspesifik adanya gejala “tortikolis”yaitu kepala memutar-mutar tidak menentu dan lumpuh.
Pengendalian:
menjaga kebersihan lingkungan dan peralatan yang tercemar virus, binatang vektor penyakit tetelo, ayam yang mati segera dibakar/dibuang
pisahkan ayam yang sakit, mencegah tamu masuk areal peternakan tanpa baju yang mensucihamakan/ steril serta melakukan vaksinasi NCD. Sampai sekarang belum ada obatnya.
3. Berak putih (Pullorum)
Penyebab: Kuman Salmonella pullorum dan merupakan penyakit menular.
Gejala: kotoran berwarna putih, nafsu makan hilang, sesak nafas, bulu-bulu mengerut dan sayap lemah menggantung.
Pengendalian: sama dengan pengendalian penyakit tetelo.
4. Berak darah (Coccidiosis)
Gejala: tinja berdarah dan mencret, nafsu makan kurang, sayap terkulasi, bulu kusam menggigil kedinginan.
Pengendalian:
menjaga kebersihan lingkungaan, menjaga litter tetap kering; dengan Tetra Chloine Capsule diberikan melalui mulut; Noxal, Trisula Zuco tablet dilarutkan dalam air minum atau sulfaqui moxaline, amprolium, cxaldayoco
5. Cacar Unggas (Fowl Pox)
Penyebab: Poxvirus, menyerang bangsa unggas dari semua umur dan jenis kelamin.
Gejala: imbulnya keropeng-keropeng pada kulit yang tidak berbulu, seperti pial, kaki, mulut dan farink yang apabila dilepaskan akan mengeluarkan darah.
Pengendalian: vaksin dipteria dan mengisolasi kandang atau puyuh yang terinfksi.
6. Quail Bronchitis
Penyebab: Quail bronchitis virus (adenovirus) yang bersifat sangat menular.
Gejala: puyuh kelihatan lesu, bulu kusam, gemetar, sulit bernafas, batuk dan bersi, mata dan hidung kadang-kadang mengeluarkan lendir serta kadangkala kepala dan leher agak terpuntir.
Pengendalian: pemberian pakan yang bergizi dengan sanitasi yang memadai.
7. Aspergillosis
Penyebab: cendawan Aspergillus fumigatus.
Gejala: Puyuh mengalami
gangguan pernafasan, mata terbentuk lapisan putih menyerupai keju, mengantuk, nafsu makan berkurang.
Pengendalian: memperbaiki sanitasi kandang dan lingkungan sekitarnya.
8. Cacingan
Penyebab: sanitasi yang buruk.
Gejala: puyuh tampak kurus, lesu dan lemah.
Pengendalian: menjaga kebersihan kandang dan pemberian pakan yang terjaga kebersihannya.
PEMANENAN
Tahapan yang paling ditunggu oleh seorang pengusaha adalah saat pemanenan. Seperti telah didisinggung diatas, ada beberapa manfaat yang dapat diambil dari budidaya burung puyuh ini, yaitu :
Hasil Utama
Pada usaha pemeliharaan puyuh petelur, yang menjadi hasil utamanya adalah produksi telurnya yang dipanen setiap hari selama masa produksi berlangsung.
Hasil Tambahan
Sedangkan yang merupakan hasil tambahan antara lain berupa daging afkiran, tinja untuk pupuk kandang serta bulu puyuh sebagai bahan baku kerajinan tangan.
Beternak Burung Puyuh – Sebagian besar masyarakat Indonesia pasti sudah menikmati sedapnya telur puyuh. Jenis unggas yang dikenal sebagai Gemak merupakan jenis burung yang tidak dapat terbang, ukuran tubuh relatif kecil, berkaki pendek dan dapat diadu. Sedangkan di Indonesia Cara berternak burung puyuh mulai dikenal, dan kembangkan semenjak akhir tahun 1979. Cara berternak burung puyuh sangat mudah diterapkan. Dengan tingkat kebutuhan pasar yang tinggi menjadikan budidaya burung puyuh ini sebagai peluang usaha yang menjanjikan.
Berikut ini adalah Cara berternak burung puyuh dimulai dengan sejarah singkat burung puyuh, sentra Cara berternak burung puyuh, jenis-jenis burung puyuh, manfaat burung puyuh, persyaratan lokasi Cara berternak burung puyuh, pedoman Cara berternak burung puyuh, hama dan penyakit burung puyuh dan lain-lain.
SEJARAH SINGKAT
Puyuh merupakan jenis burung yang tidak dapat terbang, ukuran tubuh relatif kecil, berkaki pendek dan dapat diadu. Burung puyuh disebut juga Gemak (Bhs. Jawa-Indonesia). Bahasa asingnya disebut “Quail”, merupakan bangsa burung (liar) yang pertama kali diternakan di Amerika Serikat, tahun 1870. Dan terus dikembangkan ke penjuru dunia. Sedangkan di Indonesia puyuh mulai dikenal, dan diternak semenjak akhir tahun 1979. Kini mulai bermunculan di kandang-kandang ternak yang ada di Indonesia.
SENTRA PETERNAKAN
Sentra Peternakan burung puyuh banyak terdapat di Sumatera, Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah
JENIS
Kelas : Aves (Bangsa Burung)
Ordo : Galiformes
Sub Ordo : Phasianoidae
Famili : Phasianidae
Sub Famili : Phasianinae
Genus : Coturnix
Species : Coturnix-coturnix Japonica
MANFAAT
Telur dan dagingnya mempunyai nilai gizi dan rasa yang lezat
Bulunya sebagai bahan aneka kerajinan atau perabot rumah tangga lainnya
Kotorannya sebagai pupuk kandang ataupun kompos yang baik dapat digunakan sebagai pupuk tanaman
PERSYARATAN LOKASI
Lokasi jauh dari keramaian dan pemukiman penduduk
Lokasi mempunyai strategi transportasi, terutama jalur sapronak dan jalur-jalur pemasaran
Lokasi terpilih bebas dari wabah penyakit
Bukan merupakan daerah sering banjir
Merupakan daerah yang selalu mendapatkan sirkulasi udara yang baik.
TEKNIS BUDIDAYA BURUNG PUYUH
Yang butuh di perhatikan oleh peternak sebelum saat mengawali usahanya, yaitu memahami 3 ( tiga ) unsur produksi usaha perternakan yakni bibit/pembibitan, pakan ( ransum ) dan pengelolaan usaha peternakan. dengan rinci akan kita bahan selanjutnya satu persatu.
Penyediaan fasilitas dan peralatan
1. Persiapan kandang
Buat budidaya burung puyuh, kriteria kandang yang baik butuh di perhatikan yaitu temperatur kandang yang ideal atau normal berkisar 20-25 derajat c ; kelembapan kandang berkisar 30-80% ; penerangan kandang pada siang hari cukup 25- 40 watt, namun malam hari 40-60 watt ( perihal ini berlaku buat cuaca mendung/musim hujan ). tata letak kandang baiknya diatur supaya cahaya matahari pagi dapat masuk kedalam kandang. hingga keadaan kandang tidak lembab.
Saat mempersipkan kandang burung puyuh ini, kita memiliki 2 alternatif yang biasa diaplikasikan peternak puyuh, yakni sistem litter ( lantai sekam ) dan sistem sangkar ( batere ). namun ukuran kandang yang digunakanumumnya buat 1 m2 bisa diisi 90-100 ekor anak puyuh, berikut jadi 60 ekor buat umur 10 hari sampai lepas waktu anakan. paling akhir jadi 40 ekor/m2 sampai waktu bertelur.
Ada lebih dari satu bagian didalam budidaya burung puyuh. masing-masing bagian idealnya membutuhkan persiapan kandang yang cocok, yakni :
Kandang buat induk pembibitan
Kandang ini berpegaruh segera terhadap produktifitas dan kekuatan membuahkan telur yang berkwalitas. besar atau ukuran kandang yang akan dipakai kudu cocok dengan jumlah puyuh yang akan dipelihara. idealnya satu ekor puyuh dewasa memerlukan luas kandang 200 m2.
Kandang buat induk petelur
Kandang ini berperan jadi kandang buat induk pembibit. kandang ini memiliki wujud, ukuran, dan kepentingan peralatan yang sama. kepadatan kandang semakin besar namun dapat juga sama.
Kandang buat anak puyuh/umur stater( kandang indukan )
Type kandang ini adalah kandang untuk anak puyuh pada umur starter, yakni mulai umur 1 hari sampai dengan dua sampai tiga minggu. kandang ini berperan buat melindungi supaya anak puyuh yang masih membutuhkan pemanasan itu terus terlindung dan memperoleh panas yang cocok dengan keperluan. baiknya kandang ini butuh dilengkapi alat pemanas. umumnya ukuran yang kerap dipakai yaitu lebar 100 cm, panjang 100 cm, tinggi 40 cm, dan tinggi kaki 50 cm. ( ukuran ini cukup berisi 90-100 ekor anak puyuh ).
kandang buat puyuh umur grower ( 3-6 minggu ) dan layer ( kian lebih 6 minggu )
Type kandang selanjutnya, wujud, ukuran ataupun peralatannya sama juga dengan kandang buat induk petelur. alas kandang umumnya berbentuk kawat ram.
2. Kelengkapan kandang
Perlengkapan yang dibutuhkan didalam kandang berbentuk area makan, area minum, area bertelur dan area obat-obatan.
Penyediaan bibit
Layaknya telah diainggung di atas, penyediaan bibitmerupakan bagian yang perlu didalam budidaya burung puyuh. penentuan bibit burung puyuh sesuai dengan tujuan pemeliharaan, ada 3 ( tiga ) macam tujuan pemeliharaan burung puyuh, yakni :
Buat produksi telur mengonsumsi, dipilih bibit puyuh type ketam betina yang sehat atau bebas dari kerier penyakit.
buat produksi daging puyuh, dipilih bibit puyuh jantan dan puyuh petelur afkiran.
buat pembibitan atau produksi telur tetas, dipilih bibit puyuh betina yang baik produksi telurnya dan puyuh jantan yang sehat yang siap membuahi puyuh betina supaya bisa menjamin telur tetas yang baik.
Pemeliharaan
Sesudah kita peroleh bibit yang baik, berikut yang butuh memperoleh perhatian yaitu pemeliharaan puyuh, meliputi :
Kebersihan/sanitasi dan tindakan preventif
Buat melindungi munculnya penyakit pada pemeliharaan puyuh kebersihan lingkungan kandang dan vaksinasi terhadap puyuh butuh dikerjakan sedini barangkali.
Pengontrolan penyakit
Pengontrolan penyakit dikerjakan setiap waktu dan seandainya ada sinyal tanda yang kurang sehat terhadap puyuh kudu selekasnya dikerjakan penyembuhan cocok dengan panduan dokter hewan atau dinas peternakan setempat atau panduan dari poultry shoup.
Pemberian pakan
Pemberian pakan adalah faktor yang perlu didalam kesuksesan beternak burung puyuh dengan hasil yang maksimal. ransum ( pakan ) yang bisa diberikan buat puyuh terdiri dari lebih dari satu wujud, yakni : wujud pallet, remah-remah dan tepung. lantaran puyuh yang senang usil memtuk temannya akan memiliki aktivitas mematukmatuk pakannya. pemberian ransum puyuh anakan diberikan 2 ( dua ) kali 1 hari pagi dan siang. namun puyuh remaja/dewasa diberikan ransum cuma satu kali 1 hari yakni di pagi hari. buat pemberian minum pada anak puyuh pada bibitan diberikan terus-menerus.
Pemberian vaksinasi
Pada umur 4-7 hari puyuh di vaksinasi dengan dosis separo dari dosis buat ayam. vaksin bisa diberikan lewat tetes mata ( intra okuler ) atau air minum ( peroral ).
pemanenan
Bagian yang sangat ditunggu oleh seorang entrepreneur yaitu waktu pemanenan. layaknya sudah didisinggung di atas, ada lebih dari satu faedah yang bisa diambil dari budidaya burung puyuh ini, yakni :
Hasil utama
Pada usaha pemeliharaan puyuh petelur, sebagai hasil utamanya yaitu produksi telurnya yang dipanen tiap-tiap hari sepanjang masa produksi berlangsung.
Hasil tambahan
Hasil tambahan diantaranya berbentuk daging afkiran, tinja buat pupuk kandang dan bulu puyuh jadi bahan baku kerajinan tangan.
nah,,, menunggu terlebih, satu type usaha, budidaya burung puyuh, bermacam hasil yang didapat. selamat jadi entrepreneur dan semoga sukses…
sumber duniapustaka dan beternak.net
Label:
puyuh
daftar nama burung di indonesia
Diposting oleh Unknown
bomba | Jenis burung
pengicau yang ada di indonesia - burung paok - burung langka - burung yang dilindungi - dll
Eurylaimidae
Calyptomena
viridis : Madi-hijau Kecil - NT
Calyptomena
hosii : Madi-hijau Perut-biru - NT
Calyptomena
whiteheadi : Madi-hijau Whitehead - LC
Cymbirhynchus
macrorhynchos Sempur-hujan Sungai - LC
Psarisomus
dalhousiae : Madi Injab - LC
Serilophus
lunatus : Madi Dada-perak - LC
Eurylaimus
javanicus : Sempur-hujan Rimba - LC
Eurylaimus
ochromalus : Sempur-hujan Darat - NT
Corydon
sumatranus : Madi Hitam - LC
Label:
burung indonesia
DAFTAR ISI BLOG XCUL-XCUL
Diposting oleh Unknown
Label:
burung
Daftar kota disumatera yang mempunyai pecinta burung terbanyak
Diposting oleh Unknown
Memang hoby memelihara burung sedikit sedikit membutuhkan kesabaran daripada hoby hoby yang lain, namun hal ini tidaklah penghalang bagi sebagian orang yang memang suka dan mencintai hoby ini. berikut adalah daftar kota disumatera yang mempunyai pecinta burung terbanyak yang dihimpun dari berbagai sumber :
- Kota Bukittinggi : Didaerah bukittinggi agam, kita dapat melihat pasar burung di pasar bawah bukit tinggi. mereka berkumpul dipasar hampir setiap minggu .apakah itu untuk sharing, reunian maupun jual beli burung. begitu juga dengan kota kota lainnya.
- Kab. Dharmasraya
- Kab. Kepulauan Mentawai
- Kab. Lima Puluh Kota
- Kab. Padang Pariaman
- Kab. Pasaman
- Kab.Pasaman Barat
- Kab.Pesisir Selatan
- Kab. Sijunjung
- Kab.Solok
- Kab. Solok Selatan
- Kab. Tanah Datar
- Kota Padang
- Kota Padangpanjang
- Kota Pariaman
- Kota Payakumbuh
- Kota Sawahlunto
- Kota Solok
- Kota Batusangkar
Hampir disetiap kota dan daerah dipulau sumatera ada yang memelihara burung, biasanya mereka hanya sekedar hoby dan hanya didaerah tertentu saja yang memelihara burung untuk skala usaha. mungkin dikarenakan faktor sosialisasi dan pengetahuan tentang cara memelihara, merawat dan mengelola peternakan burung dengan benar itu masih dirasa kurang.
Label:
kota burung
Tips Cara ampuh menjodohkan Lovebird
Diposting oleh Unknown
Tips Cara Menjodohkan Lovebird
Walaupun burung ini relative mudah untuk dipasangkan alias dijodohkan, akan tetapi tidak sedikit breeder pemula yang mengalami kesulitan mengawinkan LoveBird. Cara / Tips menjodohkan LoveBird termudah dan cepat adalah menjodohkan dari semenjak anakan / lovebird muda. Masukan beberapa ekor LoveBird dalam satu kandangumbaran, rawatlah dengan baik, dan kita beri makanan yang cukup gizi dan terjamin kebersihannya. Ketika sudah mencapai umur 9 bulan, pantaulah gerak-geriknya.
Foto : dir.groups.yahoo.com
Ciri-ciri atau tanda ketika mulai birahiakan melakukan gerakan-gerakan seperti salaing bercumbu dan LoveBird pejantan akan mulai belajar Kawin dengan menaiki punggung si betina seperti mau kawin. Pantau terus pasangan tersebut. Jika gelagat ini berlanjut sampai beberapa hari, maka segera pindah atau pisahkan pasangan itu dari kelompoknya dan tempatkan dalam satu kandangyang lain. Gunakan kandang baterai yang mudah dipindahkan. Jemur dan mandikan di pagi hari.
Waktu mandi dan berjemur pagi yang terbaik adalah pukul 10.00 ke bawah, dimana sinar matahari pagi tidak terlalu terik dan panas. Berikan jeda waktu untuk penyesuaian bagi pasangan lovebird tersebut. Lama waktu yang kita butuhkan biasanya berkisar 3 sampai 6 pekan untuk memastikan bahwa pasangan tersebut sudah berjodoh dan siap kita tangkarkan.
Hal yang perlu kita ingat adalah Jangan terburu-buru masukkan glodok/gowok/ kotak sarang LoveBird terlalu awal karena kotak sarang lovebird / glodok yang kita masukkan terlalu cepat akan menyibukkan pasangan LoveBird bermain-main dengan kotaknya karena kotak dianggap sebagai mainan yang menarik. Akibatnya kalau mereka sibuk dengan kotak glodok itu pada akhirnya menghilangkan rasa Birahi pasangan itu, akan tetapi ada beberapa peternak yang langsung memasukkan kotak Glodok sejak awal.
A. LoveBird Siap Ditangkarkan
Pada umur berapakah burung Love Bird bisa dan siap dikembangbiakkan? Usia untuk penangkaran indukan Love Bird adalah sekitar umur 1 tahun. jika perawatan di lakukan dengan baik dan intensif maka 10 bulan sudah akan menunjukkan ciri-ciri akan kawin dan bertelur pada Love Bird betina dan birahi pada pejantan. Amatilah, Pasangan yang sudah dipisahkan. kalau sudah melihat pasangan kawin dengan klop dan sempurna, dalam arti ritual perkawinan itu berjalan cukup lama yaitu pejantan tidak jatuh dari punggung lovebird betina, artinya pasangan lovebird itu sudah siap melakukan reproduksi. Maka yang harus kita lakukan adalah mempersiapkan kandang penangkaran yang dilengkapi kotak sarang didalamnya. Masukkkan pasangan lovebird itu dan tunggu sampai pasangan itu sampai bertelur.
Pasangan yang kita masukan di kandang penangkaran biasanya akan segera membuat sarangdi kotaknya. Usahakan didalam kotak kita sediakan bahan serutan kayu setinggi 1-2 cm sebagai alas sarang. Lalu berikan juga kulit jagung muda yang kita letakkan di dalam kandang. Sang Burung betina biasanya akan aktif sekali mengambil kulit jagung dan dirobek-robeknya dengan paruhnya lalu kulit jagung itu dibawa masuk ke kotak sarang. Sang jantan yang baik akan rajin menolong si betina. Disini ambil kesimpulan apakah nantinya pejantan akan berlaku sebagai bapak yang baik dan rajin meloloh si betina dan anaknya.
Jangan lupa kita sediakan Kulit jagung muda karena kulit jagung sebagai salah satu media untuk membuat sarang bagi pasangan burung. Selain itu kita juga dapat memakai daun cemara kering, rumput kering, sabut kelapa dan daun palem dan lainnya.
B. Ritual Kawin
Mengamati pasangan Love Birdyang birahi dan kawin sangatlah menarik. Gaya dan geraknya mereka sangat mempesona. mari kita perhatikan sendiri. Love = Cinta adalah julukan yang menemepel pada burung ini. Bayangkan apalagi ritual kawin mereka.
Pejantan akan memulai dengan tarian yang memadukan gerakan tubuh dan kakinya. Pejantan mencumbui si betina dengan menyuapinya. Apabila kita lihat seperti pasangan yang sedang berciuman. Semakin sering pejantan menyuapi si betina maka induk betina akan segera akan mengembangkan kedua sayapnya seolah menyambut mempelai prianya. Lalu perkawinan pun segera berlangsung untuk waktu lama. Burung Love Bird sangat menikmati ritual perkawinan ini hingga mencapai orgasme baik pejantan dan betina.
C. Pasangan Sejati
LoveBird adalah burung monogami, mereka akan berpasangan seumur hidup. Ikatan jodoh mereka kuat sekali. Bila salah satu pasangan mati, LoveBird cenderung akan sulit dicarikan pasangan barunya. Lovebird Perlu waktu yang lama untuk melupakan pasangan hidupnya.
Sumber : Wikipedia
Daftar nama burung yang ada di indonesia komplet
Diposting oleh Unknown
Keterangan urutan:
Bahasa latin - Bahasa Indonesia - Status konservasi
Status Konservasi
NE = Tidak dievaluasi NT = Hampir terancam CR = Kritis
DD = Kurang Data VU = Rentan EW = Telah punah di alam bebas
LC = Beresiko rendah EN = Terancam punah EX = Punah
Passeriformes :
Jenis burung pengicau yang ada di indonesia
Eurylaimidae

Calyptomena viridis : Madi-hijau Kecil - NT
Calyptomena hosii : Madi-hijau Perut-biru - NT
Calyptomena whiteheadi : Madi-hijau Whitehead - LC
Cymbirhynchus macrorhynchos Sempur-hujan Sungai - LC
Psarisomus dalhousiae : Madi Injab - LC
Serilophus lunatus : Madi Dada-perak - LC
Eurylaimus javanicus : Sempur-hujan Rimba - LC
Eurylaimus ochromalus : Sempur-hujan Darat - NT
Corydon sumatranus : Madi Hitam - LC
Pittidae : Burung Paok

Pitta schneideri Paok Schneider - VU
Pitta caerulea Paok Besar-biru - NT
Pitta guajana Paok Pancawarna - LC
Pitta baudii Paok Kepala-biru - VU
Pitta sordida Paok Hijau - LC
Pitta maxima Paok Halmahera - LC
Pitta erythrogaster Paok Mopo - LC
Pitta dohertyi - NT
Pitta arcuata Paok Biru - LC
Pitta granatina Paok Delima - NT
Pitta venusta Paok Topi-hitam - VU
Pitta nympha Paok Bidadari - VU - LANGKA
Pitta moluccensis Paok Hujan - LC
Pitta megarhyncha Paok Bakau - NT
Pitta elegans Paok Laus - LC
Pitta versicolor Paok Lantang - LC
Ptilonorhynchidae: Namdur

Ailuroedus buccoides Burung-kucing Kuping-putih - LC
Ailuroedus melanotis Burung-kucing Tutul - LC
Archboldia papuensis Namdur Hitam - NT
Amblyornis inornata Namdur Polos - LC
Amblyornis macgregoriae Namdur Jambul-emas - LC
Amblyornis flavifrons Namdur Dahi-emas - LC
Sericulus aureus Namdur Api - LC
Chlamydera lauterbachi Namdur Dada-kuning - LC
Chlamydera cerviniventris Namdur Coklat - LC
Climacteridae
Cormobates placens Munguk Papua - LC
Maluridae

Sipodotus wallacii Cikrak-peri Topi-biru - LC
Malurus grayi Cikrak-peri Paruh-lebar - LC
Malurus alboscapulatus Cikrak-peri Bahu-putih - LC
Malurus cyanocephalus Cikrak-peri Kaisar - LC
Clytomyias insignis Cikrak-peri Topi-merah - LC
Acanthizidae

Crateroscelis murina - Tepus-tikus Merah - LC
Crateroscelis nigrorufa Tepus-tikus Dwiwarna - LC
Crateroscelis robusta - Tepus-tikus Gunung - LC
Sericornis beccarii - Sericornis Beccari - LC
Sericornis virgatus - Sericornis Beragam - LC
Sericornis nouhuysi - Sericornis Besar - LC
Sericornis rufescens - Sericornis Vogelkop - LC
Sericornis perspicillatus - Sericornis Kepala-coklat - LC
Sericornis arfakianus - Sericornis Kelabu-hijau - LC
Sericornis papuensis - Sericornis Papua - LC
Sericornis spilodera - Sericornis Paruh-putih - LC
Gerygone cinerea - Remetuk Kelabu - LC
Gerygone chloronota - Remetuk Tunggir-hijau - LC
Gerygone palpebrosa - Remetuk Bidadari - LC
Gerygone chrysogaster - Remetuk Perut-emas - LC
Gerygone magnirostris - Remetuk Rawa - LC
Gerygone hypoxantha - Remetuk Biak - EN
Gerygone sulphurea - Remetuk Laut - LC
Gerygone inornata - LC
Gerygone dorsalis - Remetuk Panggul-merah - LC
Gerygone ruficollis - Remetuk Pakis - LC
Acanthiza murina - Remetuk Papua - LC
Pomatostomidae

Pomatostomus isidorei - Cica Papua Merah - LC
Pomatostomus temporalis - Cica Papua Topi-kelabu - LC
Orthonychidae

Orthonyx novaeguineae - LC
Melampitta lugubris - Melampitta Kecil - LC
Melampitta gigantea - Melampitta Besar - LC
Ifrita kowaldi - Ifrita Topi-biru - LC
Cnemophilidae

Cnemophilus macgregorii - Cendrawasih Jambul - LC
Cnemophilus loriae - Cendrawasih Loria - LC
Loboparadisea sericea - Cendrawasih Sutera - NT
Melanocharitidae

Melanocharis arfakiana - Burung buah Gelap - DD
Melanocharis nigra - Burung buah Hitam - LC
Melanocharis longicauda - Burung buah Dada-kuning - LC
Melanocharis versteri - Burung buah Kipasan - LC
Melanocharis striativentris - Burung buah Bercoreng - LC
Melanocharis crassirostris - LC
Oedistoma pygmaeum - Cucuk Panjang Kerdil - LC
Toxorhamphus poliopterus - Cucuk panjang Dagu-kelabu - LC
Toxorhamphus novaeguineae - Cucuk panjang Perut-kuning - LC
Toxorhamphus iliolophus - Cucuk panjang Kate - LC
Oreocharis arfaki - Burung buah Gelatik - LC
Paramythia montium - Burung buah Jambul - LC
Eupetidae

Androphobus viridis - Burung-cambuk Papua - DD
Ptilorrhoa leucosticta - Tepus-permata Gunung - LC
Ptilorrhoa caerulescens - Tepus-permata Biru - LC
Ptilorrhoa castanonota - Tepus-permata Belang - LC
Eupetes macrocerus - Sipinjur Melayu - NT
Cinclosomatidae
Cinclosoma ajax - Anis puyuh Ajax - LC
Machaerirhynchidae

Machaerirhynchus flaviventer - Cucuk pisau Dada-kuning - LC
Machaerirhynchus nigripectus - Cucuk pisau Dada-hitam - LC
Cracticidae

Cracticus mentalis - Jagal Leher-putih - LC
Cracticus cassicus - Jagal Papua - LC
Cracticus quoyi - Jagal Hitam - LC
Gymnorhina tibicen -Jagal Punggung-hitam - LC
Peltops blainvillii - Peltops Hutan - LC
Peltops montanus - Peltops Gunung - LC
Artamidae

Artamus leucorynchus -Kekep Babi - LC
Artamus monachus -Kekep Sulawesi - LC
Artamus maximus -Kekep Besar - LC
Artamus cinereus -Kekep Hitam - LC
Aegithinidae : Cipo

Aegithina tiphia - Cipoh Kacat - LC
Aegithina viridissima - Cipoh Jantung - NT
Pityriaseidae

Pityriasis gymnocephala - Tiong batu Kalimantan - NT
Campephagidae

Tephrodornis gularis - Jinjing Petulak - LC
Coracina larvata - Kepudang sungu Gunung - LC
Coracina javensis - Kepudang sungu Jawa - LC
Coracina schistacea - Kepudang sungu Kelabu - LC
Coracina personata - Kepudang sungu Topeng - LC
Coracina atriceps - Kepudang sungu Maluku - LC
Coracina fortis - Kepudang sungu Buru - NT
Coracina novaehollandiae - Kepudang sungu Besar - LC
Coracina caeruleogrisea - Kepala sungu Paruh-tebal - LC
Coracina temminckii - Kepudang sungu Biru - LC
Coracina striata - Kepudang sungu Sumatera - LC
Coracina bicolor - Kepudang sungu Belang - NT
Coracina lineata - Kepudang sungu Mata-kuning - LC
Coracina boyeri - Kepudang sungu Kelek-coklat - LC
Coracina leucopygia - Kepudang-sungu Tungging-putih - LC
Coracina papuensis - Kepudang-sungu Kartula - LC
Coracina longicauda - Kepudang-sungu Kepala-hitam - LC
Coracina parvula - Kepudang sungu Halmahera - LC
Coracina abbotti - Kepudang sungu Kerdil - LC
Coracina tenuirostris - Kepudang sungu Miniak - LC
Coracina dohertyi - Kepudang sungu Sumba - LC
Coracina sula - Kepudang sungu Sula - LC
Coracina dispar - Kepudang sungu Kai - NT
Coracina morio - Kepudang sungu Sulawesi - LC
Coracina ceramensis - Kepudang sungu Pucat - LC
Coracina incerta - LC
Coracina schisticeps - Kepudang sungu Desin - LC
Coracina melas - Kepudang sungu Hitam - LC
Coracina montana - Kepudang sungu Perut-hitam - LC
Coracina fimbriata - Kepudang sungu Kecil - LC
Campochaera sloetii - Kepudang sungu Emas - LC
Lalage nigra -Kapasan Kemiri - LC
Lalage leucopygialis -Kapasan Sulawesi - LC
Lalage sueurii -Kapasan Sayap-putih - LC
Lalage aurea -Kapasan Halmahera - LC
Lalage moesta - LC
Lalage atrovirens -Kapasan Alis-hitam - LC
Lalage leucomela -Kapasan Alis-putih - LC
Pericrocotus divaricatus - Sepah Padang - LC
Pericrocotus cinnamomeus - Sepah Kecil - LC
Pericrocotus igneus - Sepah Tulin - NT
Pericrocotus lansbergei - Sepah Kerdil - LC
Pericrocotus solaris - Sepah Dagu-kelabu - LC
Pericrocotus miniatus - Sepah Gunung - LC
Pericrocotus flammeus - Sepah Hutan - LC
Hemipus picatus - Jingjing Bukit - LC
Hemipus hirundinaceus - Jingjing Batu - LC
Neosittidae
Daphoenositta chrysoptera -Sitella Papua - LC
Daphoenositta miranda -Sitella Hitam - LC
Falcunculidae

Eulacestoma nigropectus -Paruh-bajak Gelambir - LC
Pachycephalidae : Kancilan
Pachycare flavogrisea - Kancilan Topeng-emas - LC
Rhagologus leucostigma - Kancilan Burik - LC
Hylocitrea bonensis - Kancilan Buah - LC
Coracornis raveni - Kancilan Ungu - LC
Aleadryas rufinucha - Kancilan Tengkuk-merah - LC
Pachycephala grisola - Kancilan Bakau - LC
Pachycephala phaionota - Kancilan Pulau - LC
Pachycephala hyperythra - Kancilan Karat - LC
Pachycephala hypoxantha - Kancilan Kalimantan- LC
Pachycephala sulfuriventer - Kancilan Perut-kuning - LC
Pachycephala meyeri - Kancilan Vogelkop - LC
Pachycephala simplex - Kancilan Kelabu - LC
Pachycephala orpheus - LC
Pachycephala pectoralis - Kancilan Emas - LC
Pachycephala soror - Kancilan Sclater - LC
Pachycephala lorentzi - Kancilan Lorentz - LC
Pachycephala schlegelii - Kancilan Obuhai - LC
Pachycephala nudigula - Populer dengan nama Samyong -LC
Pachycephala aurea - Kancilan Tunggir-emas - LC
Pachycephala griseonota - Kancilan Tuna-warna - LC
Pachycephala arctitorquis - LC
Pachycephala monacha - Kancilan Kepala-hitam - LC
Pachycephala leucogastra - LC
Laniidae : Pentet
Lanius tigrinus - Bentet Loreng - LC
Lanius cristatus - Bentet Coklat - LC
Lanius schach - Bentet Kelabu - LC
Oriolidae
Sphecotheres hypoleucus - NT
Sphecotheres viridis - Burung-ara Hijau - LC
Oriolus melanotis - LC
Oriolus bouroensis - LC
Oriolus forsteni - LC
Oriolus phaeochromus - LC
Oriolus szalayi - Kepudang Coklat - LC
Oriolus sagittatus - Kepudang Tunggir-zaitun - LC - LANGKA
Oriolus flavocinctus - Kepudang Bakau - LC
Oriolus xanthonotus - Kepudang Hutan - NT
Oriolus chinensis - Kepudang Kudung-hitam - LC
Oriolus xanthornus - Kepudang Kerudung-hitam - LC
Oriolus cruentus - Kepudang Hitam - LC
Colluricinclidae
Colluricincla umbrina - LC
Colluricincla megarhyncha - Anis bentet Kecil - LC
Colluricincla sanghirensis - Anis bentet Sangihe - CR
Colluricincla harmonica - Anis bentet Kelabu - LC
Pitohui kirhocephalus - Pitohui Belang - LC
Pitohui dichrous - Pitohui Kepala-hitam - LC
Pitohui incertus - Pitohui Perut-putih - NT
Pitohui ferrugineus - Pitohui Karat - LC
Pitohui cristatus - Pitohui Jambul - LC
Pitohui nigrescens - Pitohui Hitam - LC
Dicruridae: Srigunting
Chaetorhynchus papuensis - Srigunting Kerdil - LC
Dicrurus macrocercus - Srigunting Hitam - LC
Dicrurus leucophaeus - Srigunting Kelabu - LC
Dicrurus annectans - LC
Dicrurus aeneus - Srigunting Keladi - LC
Dicrurus remifer - Srigunting Gunung - LC
Dicrurus hottentottus - Srigunting Jambul-rambut - LC
Dicrurus sumatranus - Srigunting Sumatera - NT
Dicrurus montanus - Srigunting Sulawesi - LC
Dicrurus densus - LC
Dicrurus bracteatus - Srigunting Lencana - LC
Dicrurus paradiseus - Srigunting Batu - LC
Rhipiduridae : Kipasan
Rhipidura phoenicura - Kipasan Ekor-merah - LC
Rhipidura albicollis - Kipasan Gunung - LC
Rhipidura euryura - Kipasan Bukit - LC
Rhipidura javanica - Kipasan Belang - LC
Rhipidura perlata - Kipasan Mutiara - LC
Rhipidura leucophrys - Kipasan Kebun - LC
Rhipidura diluta - LC
Rhipidura rufiventris - Kipasan Dada-lurik - LC
Rhipidura fuscorufa - NT
Rhipidura threnothorax - Kipasan-semak Bayan - LC
Rhipidura maculipectus - Kipasan-semak Hitam - LC
Rhipidura leucothorax - Kipasan-semak Perut-putih - LC
Rhipidura atra - Kipasan Hitam - LC
Rhipidura hyperythra - Kipasan Perut-coklat - LC
Rhipidura albolimbata - Kipasan Ramah - LC
Rhipidura phasiana - Kipasan Bakau - LC
Rhipidura brachyrhyncha - Kipasan Dwiwujud - LC
Rhipidura teysmanni - Kipasan Sulawesi - LC
Rhipidura superflua - LC
Rhipidura dedemi - LC
Rhipidura opistherythra - NT
Rhipidura rufidorsa Kipasan Tunggir-merah - LC
Rhipidura rufifrons Kipasan Dada-hitam - LC
Monarchidae
Hypothymis azurea - Kehicap Ranting - LC
Eutrichomyias rowleyi - Seriwang Sangihe - CR
Terpsiphone paradisi - Seriwang Asia - LC
Terpsiphone atrocaudata - NT
Terpsiphone cinnamomea - Seriwang Filipina - LC
Monarcha axillaris - Kehicap Hitam - LC
Monarcha rubiensis - Kehicap Merah - LC
Monarcha cinerascens - Kehicap Pulau - LC
Monarcha frater - Kehicap Sayap-hitam - LC
Monarcha pileatus - LC
Monarcha castus - LC
Monarcha guttulus - Kehicap Tutul - LC
Monarcha mundus - LC
Monarcha trivirgatus - Kehicap Kacamata - LC
Monarcha sacerdotum - Kehicap Flores - EN
Monarcha everetti - Kehicap Tanahjampea - EN
Monarcha loricatus - LC
Monarcha boanensis - Kehicap Boano - CR
Monarcha leucurus - NT
Monarcha julianae - Kehicap Kofiau - DD
Monarcha manadensis - Kehicap Bertopi - LC
Monarcha brehmii - Kehicap Biak - EN
Monarcha chrysomela - Kehicap Emas - LC
Arses telescophthalmus - Kehicap Biku-biku - LC
Arses insularis - LC
Grallina cyanoleuca - Branjangan lumpur Australia - LC
Grallina bruijni - Branjangan lumpur Sungai - LC
Myiagra atra - Sikatan Biak - NT
Myiagra galeata - LC
Myiagra rubecula - Sikatan Kelam - LC
Myiagra ruficollis - Sikatan Paruh-lebar - LC
Myiagra cyanoleuca - Sikatan Satin - LC
Myiagra inquieta - Sikatan Gelisah - LC
Myiagra alecto - Sikatan Kilap - LC
Corvidae
Platylophus galericulatus - Tangkar Ongklet ( Cililin ) - NT
Platysmurus leucopterus - Tangkar Kambing - NT
Cissa chinensis - Ekek Layongan - LC
Cissa thalassina - Ekek Geling - LC
Dendrocitta occipitalis - Tangkar-uli Sumatera - LC
Crypsirina temia -Cetrong - LC
Corvus splendens - Gagak Rumah - LC
Corvus enca - Gagak Hutan - LC
Corvus typicus - Gagak Sulawesi - LC
Corvus unicolor - Gagak Banggai - CR
Corvus florensis - Gagak Flores - EN
Corvus validus - Gagak Paruh-panjang - LC
Corvus fuscicapillus - Gagak Kepala-coklat - NT
Corvus tristis - Gagak Kelabu - LC
Corvus macrorhynchos - Gagak Kampung - LC
Corvus orru - Gagak Orru - LC
Paradisaeidae
Lycocorax pyrrhopterus Cendrawasih Gagak - LC
Manucodia ater Manukodia Kilap - LC
Manucodia chalybatus Manukodia Leher-keriting - LC
Manucodia jobiensis Manukodia Jobi - LC
Manucodia keraudrenii Manukodia Trompet - LC
Paradigalla carunculata Paradigalla Ekor-panjang - NT
Paradigalla brevicauda Paradigalla Ekor-pendek - LC
Astrapia nigra Astrapia Arfak - LC
Astrapia splendidissima Astrapia Cemerlang - LC
Parotia sefilata Parotia Arfak - LC
Parotia carolae Parotia Carola - LC
Pteridophora alberti Cendrawasih Panji - LC
Lophorina superba Cendrawasih Kerah - LC
Ptiloris magnificus Toowa Cemerlang - LC
Epimachus fastuosus Paruh-sabit Kurikuri - VU
Epimachus meyeri Paruh-sabit Coklat - LC
Epimachus albertisi Paruh-sabit Ekor-kuning - LC
Epimachus bruijnii Paruh-sabit Paruh-putih - NT
Cicinnurus magnificus Cendrawasih Belah-rotan - LC
Cicinnurus respublica Cendrawasih Botak - NT
Cicinnurus regius Cendrawasih Raja - LC
Semioptera wallacii Bidadari Halmahera - LC
Seleucidis melanoleucus Cendrawasih Mati-kawat - LC
Paradisaea rubra Cendrawasih Merah - NT
Paradisaea minor Cendrawasih Kuning-kecil - LC
Paradisaea apoda Cendrawasih Kuning-besar - LC
Paradisaea raggiana Cendrawasih Raggiana - LC
Petroicidae
Poecilodryas brachyura Robin Dagu-hitam - LC
Poecilodryas hypoleuca Robin Belang - LC
Poecilodryas placens Robin Kuning - NT
Poecilodryas albonotata Robin Leher-hitam - LC
Peneothello sigillatus Robin Sayap-putih - LC
Peneothello cryptoleuca Robin Kelabu - LC
Peneothello cyanus Robin Biru-abu - LC
Peneothello bimaculata Robin Tunggir-putih - LC
Heteromyias albispecularis Robin Badut - LC
Tregellasia leucops Robin Muka-putih - LC
Eopsaltria pulverulenta Robin Bakau - LC
Pachycephalopsis hattamensis Robin Hijau - LC
Pachycephalopsis poliosoma Robin Mata-putih - LC
Monachella muelleriana Sikatan Sungai - LC
Microeca hemixantha - NT
Microeca flavigaster Sikatan Perut-kuning - LC
Microeca griseoceps Sikatan Kuning - LC
Microeca flavovirescens Sikatan Zaitun - LC
Microeca papuana Sikatan Kenari - LC
Eugerygone rubra Robin Akik - LC
Petroica bivittata Robin Gunung - LC
Petroica archboldi Robin Salju - DD
Drymodes superciliaris Kucica-semak Alis - LC
Amalocichla sclateriana Anis-Papua Besar - LC
Amalocichla incerta Anis-Papua Kecil - LC
Paridae
Parus major - Gelatik Batu - LC
Melanochlora sultanea - LC
Hirundinidae : layang layang
Riparia riparia Layang-layang Pasir - LC - LANGKA
Hirundo rustica Layang-layang Api - LC
Hirundo tahitica Layang-layang Batu - LC
Hirundo daurica Layang-layang Gua - LC - LANGKA
Hirundo striolata Layang-layang Besar - LC
Hirundo nigricans Layang-layang Pohon - LC
Hirundo ariel Layang-layang Bidadari - LC
Delichon dasypus Layang-layang Rumah - LC
Aegithalidae
Psaltria exilis : Cerecet Jawa - LC
Alaudidae : branjangan
Mirafra javanica - Branjangan Jawa - LC
Cisticolidae : Cici
Cisticola juncidis - Cici Padi - LC
Cisticola exilis - Cici Merah - LC
Prinia polychroa - Perenjak Coklat - LC
Prinia atrogularis - Perenjak Gunung - LC
Prinia familiaris - Perenjak Jawa - LC
Prinia flaviventris - Perenjak Rawa - LC
Prinia inornata - Perenjak Sisi-merah - LC
Pycnonotidae : Cucak
Pycnonotus zeylanicus - Cucak Rawa - VU
Pycnonotus leucogrammicus - Cucak Kerinci - LC
Pycnonotus tympanistrigus- Cucak Mutiara - NT
Pycnonotus melanoleucos - Cucak Sakit-tubuh - NT
Pycnonotus atriceps - Cucak Kuricang - LC
Pycnonotus melanicterus - Cucak Kuning - LC
Pycnonotus squamatus - Cucak Bersisik - NT
Pycnonotus cyaniventris - Cucak Kelabu - NT
Pycnonotus aurigaster - Cucak Kutilang - LC
Pycnonotus eutilotus - Cucak Rumbai-tungging - NT
Pycnonotus nieuwenhuisii - Cucak Gelambir-biru - DD
Pycnonotus bimaculatus - Cucak Gunung - LC
Pycnonotus flavescens - Merbah Gunung - LC
Pycnonotus goiavier - Merbah Cerukcuk - LC
Pycnonotus plumosus - Merbah Belukar (Kapas Tembak ) - LC
Pycnonotus simplex - Merbah Corok-corok - LC
Pycnonotus brunneus - Merbah Mata-merah - LC
Pycnonotus erythropthalmos - Merbah Kacamata - LC
Setornis criniger - Empuloh Paruh-kait - VU
Tricholestes criniger - Brinji Rambut-tunggir - LC
Iole olivacea - Brinji Mata-putih - NT
Ixos malaccensis - Brinji Bergaris - NT
Alophoixus finschii - NT
Alophoixus ochraceus - Empuloh Ragum ( Jenggot tembak ) - LC
Alophoixus bres - Empuloh Janggut ( Cucak jenggot )- LC
Alophoixus phaeocephalus - Empuloh Irang - LC
Alophoixus affinis - LC
Hemixos flavala - Brinji Kelabu - LC
Hypsipetes virescens - Brinji Gunung - LC
-->
SylviidaeOrthotomus cuculatus - Cinenen Gunung - LC
Orthotomus sutorius - Cinenen Pisang - LC
Orthotomus atrogularis - Cinenen Belukar - LC
Orthotomus sericeus - Cinenen Merah - LC
Orthotomus ruficeps - Cinenen Kelabu - LC
Orthotomus sepium - LC
Megalurus timoriensis - Cica koreng Timur - LC
Megalurus palustris - Bejuwit - LC
Megalurus albolimbatus - Cica koreng Mahkota-polos - VU
Megalurus gramineus - Cica koreng Kecil - LC
Buettikoferella bivittata - LC
Tesia superciliaris - Tesia Jawa - LC
Tesia everetti - LC
Urosphena subulata - LC
Urosphena whiteheadi - LC
Cettia vulcania - Ceret Gunung - LC
Cettia carolinae - NT
Bradypterus seebohmi - Ceret Puncak - LC
Bradypterus castaneus - Ceret Coklat - LC
Locustella lanceolata - Kecici Belalang-lurik - LC
Locustella certhiola - Kecici Belalang - LC
Locustella ochotensis - LC
Locustella fasciolata - Kecici Gray - LC
Acrocephalus bistrigiceps - LC
Acrocephalus arundinaceus - Kerakbasi Alis-putih - LC
Acrocephalus stentoreus - Kerakbasi Ramai - LC
Acrocephalus australis - LC
Phylloscopus inornatus - Cikrak Polos - LC - LANGKA
Phylloscopus borealis - Cikrak Kutub - LC
Phylloscopus coronatus - Cikrak Mahkota - LC
Phylloscopus trivirgatus - Cikrak Daun - LC
Phylloscopus sarasinorum - Cikrak Sulawesi - LC
Phylloscopus presbytes - LC
Phylloscopus poliocephalus - Cikrak Pulau - LC
Seicercus castaniceps - Cikrak Mahkota-coklat - LC
Seicercus montis - Cikrak Dada-kuning - LC
Seicercus grammiceps - Cikrak Muda - LC
Abroscopus superciliaris - Perenjak Kuning - LC
Timaliidae
Pellorneum capistratum - Pelanduk Topi-hitam - LC
Trichastoma rostratum - Pelanduk Dada-putih - NT
Trichastoma celebense - Pelanduk Sulawesi - LC
Trichastoma bicolor - Pelanduk Merah - LC
Trichastoma buettikoferi - NT
Trichastoma pyrrogenys - LC
Malacocincla abbotti - LC
Malacocincla sepiaria - Pelanduk Semak - LC
Malacocincla perspicillata - Pelanduk Kalimantan - VU
Malacocincla malaccensis - Pelanduk Ekor-pendek - NT
Malacopteron magnirostre - Asi Kumis - LC
Malacopteron affine - Asi Topi-jelaga - NT
Malacopteron cinereum - Asi Topi-sisik - LC
Malacopteron magnum - Asi Besar - NT
Malacopteron albogulare - Asi Dada-kelabu - NT
Pomatorhinus montanus - Cica kopi - LC
Rimator malacoptilus - Berencet Paruh-panjang - LC
Ptilocichla leucogrammica - Berencet Kalimantan - VU
Kenopia striata - Berencet Loreng - NT
Napothera macrodactyla - Berencet Besar - NT
Napothera rufipectus - Berencet Dada-karat - LC
Napothera atrigularis - NT
Napothera marmorata - Berencet Pualam - LC
Napothera crassa - Berencet Gunung - LC
Napothera epilepidota - Berencet Berkening - LC
Pnoepyga pusilla - Berencet Kerdil - LC
Stachyris rufifrons - Tepus Dahi-merah - LC
Stachyris chrysaea - Tepus Emas - LC
Stachyris grammiceps - Tepus Dada-putih - NT
Stachyris nigriceps - Tepus Kepala-hitam - LC
Stachyris poliocephala - Tepus Kepala-kelabu - LC
Stachyris striolata - Tepus Lurik - LC
Stachyris leucotis - Tepus Telinga-putih - NT
Stachyris nigricollis - Tepus Kaban - NT
Stachyris thoracica - Tepus Leher-putih - LC
Stachyris maculata - Tepus Tunggir-merah - NT
Stachyris erythroptera - Tepus Merbah-sampah - LC
Stachyris melanothorax - Tepus Pipi-perak - LC
Macronous gularis - Ciung-air Coreng - LC
Macronous flavicollis - Ciung Air - LC
Macronous ptilosus - Ciung-air Pongpong- NT
Timalia pileata - LC
Garrulax palliatus - Poksai Mantel - LC
Garrulax rufifrons - Poksai Kuda - NT
Garrulax leucolophus - Poksai Jambul - LC
Garrulax lugubris - Poksai Hitam - LC
Garrulax mitratus - Poksai Genting - LC
Leiothrix argentauris - Mesia Telinga-perak - LC
Pteruthius flaviscapis - Ciu Besar - LC
Pteruthius aenobarbus - Ciu Kecil - LC
Alcippe brunneicauda - Wergan Coklat - NT
Alcippe pyrrhoptera - Wergan Jawa - LC
Crocias albonotatus - Burung Matahari ( Pentet matahari )- NT
Heterophasia picaoides - Sibia Ekor panjang ( Muray Airmancur )- LC
Yuhina everetti - Yuhina Kalimantan - LC
Yuhina zantholeuca - Yuhina Perut-putih - LC
Malia grata - Malia Sulawesi - LC
Zosteropidae : kacamata
Zosterops palpebrosus - Kacamata Biasa - LC
Zosterops salvadorii - Kacamata Enggano - LC
Zosterops atricapilla - Kacamata Topi-hitam - LC
Zosterops everetti - Kacamata Belukar - LC
Zosterops montanus - Kacamata Gunung - LC
Zosterops flavus - Kacamata Jawa - NT
Zosterops chloris - Kacamata Laut - LC
Zosterops citrinella - Kacamata Limau - LC
Zosterops grayi - Kacamata Kai-besar - NT
Zosterops uropygialis - Kacamata Kai-kecil - NT
Zosterops consobrinorum - Kacamata Sulawesi - LC
Zosterops anomalus - Kacamata Makasar - LC
Zosterops wallacei - Kacamata Wallacea - LC
Zosterops atrifrons - Kacamata Dahi-hitam - LC
Zosterops nehrkorni - Kacamata Sangihe - CR
Zosterops stalkeri - Kacamata Seram - NE
Zosterops atriceps - Kacamata Halmahera - LC
Zosterops minor - Kacamata Dagu-kuning - LC
Zosterops mysorensis - Kacamata Biak - NT
Zosterops fuscicapilla - Kacamata Arfak - LC
Zosterops buruensis - Kacamata-kuning Buru - LC
Zosterops kuehni - Kacamata-kuning Ambon - NT
Zosterops novaeguineae - Kacamata Papua - LC
Tephrozosterops stalkeri - Opior Dwiwarna - LC
Madanga ruficollis - Opior Buru - EN
Lophozosterops javanicus - Kacamata Leher-abu - LC
Lophozosterops squamiceps - Opior Sulawesi - LC
Lophozosterops superciliaris - Opior Flores - LC
Lophozosterops pinaiae - Opior Kepala-abu - LC
Lophozosterops dohertyi - Opior Jambul - LC
Oculocincta squamifrons - Opior Kalimantan - LC
Heleia crassirostris - Opior Paruh-tebal - LC
Heleia muelleri - Opior Timor - NT
Chlorocharis emiliae - Opior Mata-hitam - LC
Irenidae
Irena puella - Kacembang Gadung - LC
Sittidae
Sitta frontalis - Munguk Beledu - LC
Sitta azurea - Munguk Loreng - LC
Sturnidae : Jalak
Aplonis crassa - NT
Aplonis cantoroides - Perling Kicau - LC (info)
Aplonis mysolensis - Perling Maluku - LC
Aplonis minor - Perling Kecil - LC
Aplonis panayensis - Perling Kumbang - LC
Aplonis metallica - Perling Ungu - LC
Aplonis magna -Perling Papua - LC
Aplonis mystacea - Perling Mata-kuning - NT
Mino anais - Mino Emas - LC
Mino dumontii - Mino Muka-kuning - LC
Basilornis celebensis - Raja-perling Sulawesi - LC
Basilornis galeatus - Raja-perling Sula - NT
Basilornis corythaix - LC
Streptocitta albicollis - Blibong Pendeta - LC
Streptocitta albertinae - Blibong Sula - NT
Enodes erythrophris - Jalak Alis-api - LC
Scissirostrum dubium - Jalak Rio (info)
Gracula religiosa - Tiong Emas ( Beo )- LC (info)
Acridotheres tristis - Kerak Ungu ( Jalak Nias ) - LC -
Acridotheres cinereus - Jalak Ungu - LC (info)
Leucopsar rothschildi - Jalak Bali - CR
Sturnus sturninus - LC
Sturnus philippensis - LC
Sturnus contra - Jalak Suren - LC
Sturnus melanopterus - Jalak Putih - EN
Turdidae : Cacing
Myophonus melanurus - Ciung-batu Sumatera - LC
Myophonus glaucinus - Ciung-batu Kecil - LC
Myophonus castaneus - NE
Myophonus borneensis- LC
Myophonus caeruleus - Ciung-batu Siul - LC
Geomalia heinrichi - Anis Geomalia - NT
Zoothera schistacea - NT
Zoothera dumasi - NT
Zoothera joiceyi - NT
Zoothera interpres - Anis Kembang- LC
Zoothera leucolaema - NT
Zoothera erythronota - Anis Punggung-merah - NT
Zoothera mendeni - NT
Zoothera dohertyi - Anis Nusa Tenggara - NT
Zoothera peronii - NT
Zoothera citrina - Anis Merah - LC
Zoothera sibirica - Anis Siberia - LC
Zoothera andromedae - Anis Hutan - LC
Zoothera dauma - Anis Sisik - LC
Zoothera machiki - NT
Zoothera lunulata - LC
Cataponera turdoides - Anis Sulawesi - LC
Turdus poliocephalus - Anis Gunung - LC
Turdus obscurus - Anis Kening - LC
Cochoa beccarii - Ciung-mungkal Sumatera - VU
Cochoa azurea - Ciung-mungkal Jawa - VU
Chlamydochaera jefferyi - Tawau Dada-hitam - LC
Brachypteryx leucophrys - Cingcoang Merah - LC
Brachypteryx montana - Cingcoang Alis-putih - LC
Heinrichia calligyna - Cingcoang Sulawesi - LC
Muscicapidae
Philentoma pyrhoptera - Philentoma Sayap-merah - LC
Philentoma velata - Philentoma Kerudung - NT
Luscinia cyane - Berkecet Biru - LC
Copsychus saularis - Kacer - LC
Copsychus malabaricus - Murai Batu - LC (info)
Trichixos pyrropyga - Kucica Ekor-kuning - NT
Cinclidium diana - Cingcoang Biru - LC
Enicurus velatus - Meninting Kecil - LC
Enicurus ruficapillus - Meninting Cegar - NT
Enicurus leschenaulti - Meninting Besar ( populer kacer bali ) - LC
Saxicola torquatus - LC
Saxicola caprata - Decu Belang - LC
Saxicola gutturalis - NT
Monticola solitarius - LC
Rhinomyias additus - NT
Rhinomyias oscillans - LC
Rhinomyias olivaceus - Sikatan-rimba Dada-coklat - LC
Rhinomyias umbratilis - Sikatan-rimba Dada-kelabu - NT
Rhinomyias ruficauda - Sikatan-rimba Ekor-merah - LC
Rhinomyias colonus - Sikatan-rimba Sula - NT
Rhinomyias gularis - Sikatan-rimba Gunung - LC
Muscicapa griseisticta - Sikatan Burik - LC
Muscicapa sibirica - Sikatan Sisi-gelap - LC
Muscicapa dauurica - Sikatan Bubik - LC
Muscicapa segregata - NT
Muscicapa ferruginea - Sikatan Besi - LC
Ficedula zanthopygia - Sikatan Emas - LC
Ficedula narcissina - Sikatan Narsis - LC
Ficedula mugimaki - Sikatan Gunung - LC
Ficedula solitaris - Sikatan Kerongkongan-putih - LC
Ficedula hyperythra - Sikatan Bodoh - LC
Ficedula dumetoria - Sikatan Dada-merah - NT
Ficedula rufigula - Sikatan Leher-merah - NT
Ficedula buruensis - LC
Ficedula henrici - Sikatan Damar - VU
Ficedula harterti - LC
Ficedula bonthaina - Sikatan Lompobattang - EN
Ficedula westermanni - Sikatan Belang - LC
Ficedula timorensis - NT
Cyanoptila cyanomelana - Sikatan Biru-putih (Tledekan laut-Sulingan)- LC
Eumyias thalassina - Sikatan Hijau-laut - LC
Eumyias panayensis - Sikatan Pulau - LC
Eumyias indigo - Sikatan Ninon - LC
Cyornis sanfordi - Sikatan Matinan - EN
Cyornis hoevelli - Sikatan Dahi-biru - LC
Cyornis hyacinthinus - LC
Cyornis concretus - Sikatan Besar - LC
Cyornis ruckii - Sikatan Aceh - CR
Cyornis unicolor - Sikatan Biru-muda - LC
Cyornis banyumas - Sikatan Cacing -(tledekan gunung)- LC
Cyornis superbus - Sikatan Kalimantan - LC
Cyornis caerulatus - Sikatan Biru-langit -VU
Cyornis turcosus - Sikatan Melayu - NT
Cyornis tickelliae - LC
Cyornis rufigastra - Sikatan Bakau - LC
Cyornis omissus - LC
Niltava grandis - Niltava Kumbang-padi - LC
Niltava sumatrana - Niltava Sumatera - LC
Muscicapella hodgsoni - Sikatan Kerdil - LC
Culicicapa ceylonensis - Sikatan Kepala-abu - LC
Culicicapa helianthea - Sikatan Matahari - LC
Chloropseidae : Cica daun
Chloropsis sonnerati - Cica-daun Besar ( Cucak ijo ) - LC
Chloropsis cyanopogon - Cica-daun Kecil ( Cucak ijo mini ) - NT
Chloropsis cochinchinensis - Cica-daun Sayap-biru - LC
Chloropsis kinabaluensis - LC
Chloropsis media - LC
Chloropsis venusta - Cica-daun Sumatera - NT
Dicaeidae

Prionochilus maculatus - Pentis Raja - LC
Prionochilus percussus - Pentis Pelangi - LC
Prionochilus xanthopygius - Pentis Kalimantan - LC
Prionochilus thoracicus - Pentis Kumbang - NT
Dicaeum annae - LC
Dicaeum agile - LC
Dicaeum everetti - Cabai Tunggir-coklat - NT
Dicaeum chrysorrheum - Cabai Rimba - LC
Dicaeum aureolimbatum - Cabai Panggul-kuning - LC
Dicaeum trigonostigma - Cabai Bunga-api - LC
Dicaeum concolor - Cabai Polos - LC
Dicaeum nehrkorni - Cabai Sulawesi - LC
Dicaeum erythrothorax - LC
Dicaeum vulneratum - LC
Dicaeum pectorale - Cabai Papua - LC
Dicaeum geelvinkianum - LC
Dicaeum igniferum - LC
Dicaeum maugei - Cabai Lombok - LC
Dicaeum ignipectus - Cabai Perut-kuning - LC
Dicaeum monticolum - Cabai Panggul-hitam- LC
Dicaeum celebicum - Cabai Panggul-kelabu - LC
Dicaeum sanguinolentum - Cabai Gunung - LC
Dicaeum hirundinaceum - Cabai Benalu - LC
Dicaeum cruentatum - Cabai Merah - LC
Dicaeum trochileum - Burung Cabe - LC
Nectariniidae : Burung madu

Anthreptes simplex - Burung madu Polos - LC
Anthreptes malacensis - Burung madu Kelapa - LC
Anthreptes rhodolaema - Burung madu Leher-merah - NT
Anthreptes singalensis - Burung madu Belukar - LC
Hypogramma hypogrammicum - Burung madu Rimba - LC
Nectarinia sperata - Burung madu Pengantin - LC
Nectarinia aspasia - Burung madu Hitam - LC
Nectarinia calcostetha - Burung madu Bakau - LC
Nectarinia jugularis - Burung madu Sriganti - LC
Nectarinia buettikoferi - LC
Nectarinia solaris - Burung madu Mentari - LC
Aethopyga duyvenbodei - Burung madu Sangihe - EN
Aethopyga eximia - Burung madu Gunung - LC
Aethopyga siparaja - Burung madu Sepah-raja - LC
Aethopyga mystacalis - Burung madu Jawa - LC
Arachnothera longirostra - Pijantung Kecil - LC
Arachnothera crassirostris - Pijantung Kampung - LC
Arachnothera robusta - Pijantung Besar - LC
Arachnothera flavigaster - Pijantung Tasmak - LC
Arachnothera chrysogenys - Pijantung Telinga-kuning - LC
Arachnothera affinis - Pijantung Gunung - LC
Arachnothera everetti - Pijantung Kalimantan - LC
Arachnothera juliae - Pijantung Whitehead - LC
Passeridae : Gereja

Passer domesticus - Burung gereja - LC
Passer montanus - Burung-gereja Erasia - LC
Ploceidae : Manyar

Ploceus manyar - Manyar Jambul - LC
Ploceus philippinus - Manyar Tempua - LC
Ploceus hypoxanthus - NT
Estrildidae

Amandava amandava Pipit Benggala - LC
Oreostruthus fuliginosus Pipit Ekor-api - LC
Taeniopygia guttata - LC
Erythrura hyperythra Bondol-hijau Bambu - LC
Erythrura prasina - Bondol-hijau Ekor-duri - LC
Erythrura tricolor - LC
Erythrura trichroa - Bondol-hijau Muka-biru - LC
Erythrura papuana - Bondol-hijau Papua - LC
Lonchura striata - Bondol Tunggir-putih - LC
Lonchura leucogastroides - Bondol Jawa - LC
Lonchura fuscans - Bondol Kalimantan - LC
Lonchura molucca - Bondol Taruk - LC
Lonchura punctulata - Bondol Peking - LC
Lonchura leucogastra - Bondol Perut-putih - LC
Lonchura tristissima - Bondol Coreng - LC
Lonchura leucosticta - Bondol Tutul - LC
Lonchura atricapilla Roné - LC
Lonchura ferruginosa - Bondol Hitam - LC
Lonchura quinticolor - LC
Lonchura maja - Bondol Haji - LC
Lonchura pallida - Bondol Kepala-pucat - LC
Lonchura grandis - Bondol Paruh-besar - LC
Lonchura vana - Bondol Arfak - VU
Lonchura nevermanni - Bondol Topi-putih - LC
Lonchura spectabilis - Bondol Buba - LC
Lonchura castaneothorax - Bondol Dada-coklat - LC
Lonchura stygia - Bondol Hitam - NT
Lonchura teerinki - Bondol Dada-hitam - LC
Lonchura montana - Bondol Jayawijaya - LC
Padda oryzivora - Gelatik Jawa - VU
Padda fuscata - Gelatik Timor - NT
Motacillidae : apung

Dendronanthus indicus - Kicuit Hutan - LC
Motacilla flava - Kicuit Kerbau - LC
Motacilla cinerea - Kicuit Batu - LC
Anthus rufulus - LC
Anthus novaeseelandiae - Apung Tanah - LC
Anthus gustavi - LC
Anthus cervinus - LC
Anthus gutturalis Alpine Papua - LC
Meliphagidae


Xanthotis flaviventer - Isap madu Dada-coklat - LC
Xanthotis polygrammus - Isap madu Tutul - LC
Lichenostomus subfrenatus - Isap-madu Leher-hitam - LC
Lichenostomus obscurus -Isap madu Daun - LC
Lichenostomus versicolor -Isap madu Kepodang - LC
Oreornis chrysogenys - LC
Meliphaga montana -Meliphaga Rimba - LC
Meliphaga mimikae -Meliphaga Mimika - LC
Meliphaga orientalis -Meliphaga Gunung - LC
Meliphaga albonotata -Meliphaga Semak - LC
Meliphaga aruensis -Meliphaga Aru - LC
Meliphaga analoga -Meliphaga Reichenbach - LC
Meliphaga gracilis - Meliphaga Anggun - LC
Meliphaga flavirictus - Meliphaga Paruh-kuning - LC
Meliphaga reticulata - LC
Melithreptus albogularis - Isap madu Leher-putih - LC
Pycnopygius ixoides - Isap -madu Polos - LC
Pycnopygius cinereus - Isap madu Pualam - LC
Pycnopygius stictocephalus - Isap madu Kepala-coreng - LC
Melitograis gilolensis - LC
Philemon meyeri -Cikukua Kerdil - LC
Philemon inornatus -Cikukua Timor - LC
Philemon brassi -Cikukua Mamberamo - NT
Philemon fuscicapillus Cikukua Hitam - VU
Philemon moluccensis Cikukua Maluku - LC
Philemon subcorniculatus Cikukua Seram - LC
Philemon buceroides Cikukua Tanduk - LC
Philemon novaeguineae - Cikukua Irian - LC
Philemon corniculatus - Cikukua Lantang - LC
Melipotes gymnops - Melipotes Arfak - LC
Melipotes fumigatus - Melipotes Pipi-kuning - LC
Melipotes carolae - Melipotes Pial-ganda - LC
Macgregoria pulchra - Cendrawasih Elok - VU
Melidectes fuscus - Isap madu Jelaga - LC
Melidectes nouhuysi - Isap madu Jenggot-pendek - LC
Melidectes ochromelas - Melidektes Alis-coklat - LC
Melidectes leucostephes - Melidektes Vogelkop - LC
Melidectes belfordi - Melidektes Belford - LC
Melidectes rufocrissalis - Melidektes Alis-kuning - LC
Melidectes torquatus - Melidektes Elok - LC
Ptiloprora plumbea - Isap madu Kelam - LC
Ptiloprora meekiana - Isap madu Kuning - LC
Ptiloprora erythropleura - Isap madu Panggul-merah - LC
Ptiloprora mayri - LC
Ptiloprora perstriata - Isap madu Tunggir-hitam - LC
Myza celebensis - Cikarak Sulawesi - LC
Myza sarasinorum - Cikarak Telinga-putih - LC
Melilestes megarhynchus - Isap madu Paruh-panjang - LC
Lichmera lombokia - Isap madu Lombok - LC
Lichmera argentauris - Isap madu Zaitun - LC
Lichmera limbata - LC
Lichmera indistincta - Isap madu Australia- LC
Lichmera squamata - LC
Lichmera alboauricularis - Isap madu Anis - LC
Lichmera deningeri - Isap madu Buru - LC
Lichmera monticola - Isap madu Seram - LC
Lichmera flavicans - LC
Lichmera notabilis - LC
Ramsayornis modestus -Isap madu Punggung-coklat - LC
Conopophila albogularis - Isap madu Kalung-coklat - LC
Myzomela blasii - LC
Myzomela eques -Myzomela Leher-merah - LC
Myzomela obscura -Myzomela Remang - LC
Myzomela cruentata - Myzomela Merah - LC
Myzomela nigrita - Myzomela Hitam - LC
Myzomela adolphinae - Myzomela Gunung - LC
Myzomela kuehni - NT
Myzomela dammermani - LC
Myzomela erythrocephala - Myzomela Kepala-merah - LC
Myzomela chloroptera - LC
Myzomela wakoloensis - LC
Myzomela boiei - LC
Myzomela vulnerata - LC
Myzomela rosenbergii - Myzomela Hitam-merah - LC
Timeliopsis fulvigula - Cucuk lurus Zaitun - LC
Timeliopsis griseigula - Cucuk lurus Coklat - LC
Glycichaera fallax - Isap madu Palsu - LC
Fringillidae : Kenari

Serinus estherae - Kenari Melayu - LC
Emberizidae

Emberiza spodocephala - LC - LANGKA
Sumber gambar:
wikipedia indonesia
Oriental Bird images
Label:
burung,
burung kicau,
burung murai,
informasi,
konservasi






